Wisata Alam Pantai | Wisata Goa | Wisata Minat Khusus | Wisata Budaya | Pusat Informasi |
Jarak Tempuh dan Peta wisata | Transportasi Kota Pacitan |Sanggar Seni Kota Pacitan

Upacara Adat CEPROTAN

CEPROTAN
Upacara adat Ceprotan yang sudah menjadi tradisi masyarakat Pacitan khususnya masyarakat Desa Sekar Kecamatan Donorojo selalu dilaksanakan tiap tahun pada bulan Dzulqaidah (Longkang), hari Senin Kliwon. Acara ini dimaksudkan untuk mengenang pendahulu Desa Sekar yaitu Dewi Sekartaji dan Panji Asmorobangun melalui kegiatan bersih desa. Upacara ini diyakini dapat menjauhkan desa tersebut dari bala dan memperlancar kegiatan pertanian yang merupakan mata pencaharian utama bagi kebanyakan penduduknya. Lokasi upacara Ceprotan yaitu di Desa Sekar, Kecamatan Donorojo, kota Pacitan yang jaraknya kurang lebih 40 km ke arah barat dari pusat kota.

1.      Kronologis
Upacara adat ini dimulai dengan pengarakan kelapa muda yang digunakan sebagai alat “ceprotan” menuju tempat dilaksanakannya upacara yang biasanya berupa tanah lapang. Kelapa-kelapa ini ditempatkan pada keranjang bambu dengan anyaman yang jarang-jarang dan dibawa oleh pemuda setempat.

Sebelum acara dimulai, tetua adat membacakan doa-doa. Upacara dilanjutkan dengan ditampilkannya sendratari yang menceritakan pertemuan antara Ki Godeg dengan Dewi Sekartaji. Kemudian pemuda-pemuda ini dibagi menjadi dua kubu yang ditempatkan secara berseberangan. Keranjang berisi kelapa muda yang telah dikuliti dan direndam selama beberapa hari agar tempurungnya melunak, diletakkan di depan masing-masing anggota kubu yang telah berjajar dengan posisi menghadap ke arah kubu lawan. Antar kedua kubu ini diberi jarak beberapa meter sehingga mereka tidak berhadapan secara langsung dan diantara mereka diletakkan sebuahingkung atau ayam utuh yang dipanggang.
Setelah semua siap, anggota dari kedua kubu mulai saling melempar kelapa muda yang berada di depan mereka. Setiap orang yang terkena lemparan hingga kelapa yang dilempar pada mereka pecah dan airnya membasahi tubuhnya dianggap sebagai orang yang kelak akan mendapatkan rezeki yang melimpah.
Ayam panggang yang diletakkan di tengah-tengah arena tidak diperebutkan melainkan disimpan untuk dimakan bersama-sama pada akhir acara. Setelah semua kelapa habis, kegiatan saling melempar kelapa yang dinamakan ceprotan ini diakhiri dengan pembacaan doa kembali. Pada penutupan acara ceprotan ini juga dilakukan tarian-tarian singkat yang mengiringi kepergian pemuda-pemuda yang telah melakukan ceprotan.
Langen Beksan
2.      Peralatan dan Makna Simbolik
Sendratari yang ditampilkan pada awla acara menceritakan tentang pertemuan antara Ki Godeg dengan Dewi Sekartaji. Menurut kepercayaan masyarakat Donorojo, Ki Godeg merupakan orang pertama yang membuka atau istilahnya “membabad” wilayah itu yang semula berupa hutan belantara. Ki Godeg merupakan nama lain dari Panji Asmorobangun, seseorang yang sakti mandraguna dari daerah Kediri. Karena keuletan dan keahlian dari Ki Godeg tersebut, wilayah yang semula berupa hutan belantara berhasil diubah menjadi lahan pertanian.
Suatu ketika, beliau bertemu dengan dua orang wanita yang sedang menempuh perjalanan. Kedua wanita tersebut sebenarnya adalah titisan dewi yaitu Dewi Sukonadi dan Dewi Sekartaji. Mereka beristirahat di wilayah yang telah dibabad Ki Godeg. Salah satu dari dewi tersebut yaitu Dewi Sekartaji merasa kehausan. Karena merasa kasihan, Ki Godeg menawarkan diri untuk mencarikan minuman bagi dewi tersebut. Dewi Sekartaji kemudian meminta air kelapa muda untuk mengobati dahaganya. Sayangnya, diwilayah tersebut tidak terdapat pohon kelapa sama sekali. Namun demi memenuhi permintaan dari Dewi Sekartaji, Ki Godeg melakukan matekaji atau menggunakan  ilmunya untuk masuk ke dalam tanah guna mencari kelapa muda di tempat yang cukup jauh. Tempat dimana Ki Godeg masuk ke dalam tanah berubah menjadi sumber mata air, kemudian tempat beliau keluar dari tanah juga menjadi mata air yaitu di daerah Wirati, Desa Kalak. Mata air tersebut dinamakan Kedung Timo. Setelah beliau menemukan pohon kelapa, Ki Godeg memanjat dan mengambil kelapa mudanya, lalu kembali lagi ke tempat semula dimana Dewi Sekartaji menunggu beliau. Tempat beliau kelaur dari tanah saat kembali juga menjadi mata air. Dewi Sekartaji yang kehausan segera meminum air kelapa muda yang dibawakan oleh Ki Godeg.
Sisa dari air kelapa muda yang tidak habis diminum oleh Dewi Sekartaji ditumpahkannya di tempat dewi tersebut berdiri. Air kelapa yang menyentuh tanah seketika menjadi sumber air yang hingga sekarang dikenal sebagai Sumber Sekar. Dewi Sekartaji kemudian berpesan pada Ki Godeg, jika kelak tempat tersebut menjadi pemukiman agar dinamai Desa Sekar. Untuk pemuda yang ingin ngalap berkah untuk mencari sandang pangan disuruhnya menggunakan cengkir yang dalam Bahasa Indonesia adalah kelapa muda. Hari terjadinya peristiwa tersebut adalah Senin Kliwonpada bulan Longkang atau Dzulqaidah.
Kelapa muda yang digunakan sebagai alat utama dalam upacara ini merupakan cengkir yang dimaksud oleh Dewi Sekartaji. Makna simbolik dari cengkir ini terletak pada kepanjangan dari cengkir menurut orang Jawa yaitu ceng-cenge pikir. Jadi, merujuk dari pesan Dewi Sekartaji bahwa untuk pemuda yang ingin ngalap berkah untuk mencari sandang pangan, disuruh menggunakan cengkir atau ceng-cenge pikir yang artinya mengandalkan daya pikir atau otaknya.
Kemudian mengenai acara saling melempar kelapa muda, mengandung makna saling membantu dalam mencari rezeki dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Ingkung” atau ayam panggang utuh yang berada di tengah arena upacara melambangkan rezeki yang harus di usahakan atau dicari oleh para pemuda.

3.      Nilai-nilai yang Trekandung dalam Upacara Adat Ceprotan
Selain nilai kebudayaan dan sejarah, upacara adat Ceprotan sekaligus legenda yang melatarbelakangi sarat dengan nilai-nilai lain yang harus dicermati dan dapat diamplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama mengenai kegigihan Panji Asmorobangun atau yang dikenal sebagai Ki Godeg dalam usaha-usahanya membuka dan membangun suatu wilayah di Pacitan yang kini dikenal dengan nama desa Sekar, kecamatan Donorojo menjadi daerah pertanian. Daerah ini sebenarnya merupakan daerah yang tandus mengingat kandungan kapur dalam tanahnya yang cukup tinggi. Namun kini wilayah tersebut menjadi salah satu penghsail padi dan kelapa yang cukup diperhitungkan di Kabupaten Pacitan.
Kedua mengenai kebaikan hati beliau menolong orang yang kesusahan yaitu dalam legenda ini Dewi Sekartaji, serta pengorbanan yang dilakukannya.
Ketiga mengenai pesan yang disampaikan oleh Dewi Sekartaji pada generasi muda yaitu untuk mengandalkan pikirannya dalam mencari penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidup.
Nilai lain yang dapat diambil dari kegiatan ini adalah mengenai ingkung yang disediakan di tengah arena. Ingkung ini memang seolah menjadi sntral dari Upacara Ceprotan karena melambangkan rezeki yang dicari. Namun ingkung tersebut tidak diperebutkan. Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda harus berusaha optimal dalam meraih apa yang diinginkan, tetapi jangan sampai melanggar hak dan kepentingan orang lain.
Doa pada awal dan penutup upacara juga memiliki nilai tersendiri, bahwa generasi muda harus memulai dan mengakhiri setiap usaha-usaha yang dilakukan dengan doa. Dengan doa yang melambangkan pengharapan dan kepasrahan terhadap Sang Pencipta. Kita harus meyakini jika usaha yang kita lakukan sudah maksimal, Tuhan akan membalasnya dengan hasil yang memuaskan.

4.      Prospek Nilai dalam Kehidupan Nasional
Nilai-nilai dalam Upacara Adat Ceprotan tersebut tentu memiliki prospek dalam kehidupan Nasional. Pertama adalah masalah keyakinan kita terhadap Tuhan. Kegiatan doa pada awal dan penutupan upacara yang melambangkan pengharapan dan kepasrahan kita terhadap Sang pencipta, mengingat bahwa kita harus memulai dan mengakhiri setiap usaha-usaha yang kita lakukan dengan doa.
Disadari atau tidak, masyarakat Indonesia yang terkena imbas globalisasi dan meningkatnya tekanan hidup terutama di bidang ekonomi, kebanyakan menjadi semakin populer. Mereka bersusah payah mengejar tujuannya namun lupa berdoa untuk meminta bantuan, rakhmat, serta restu dari Sang Penguasa Alam. Saat mereka mendapat apa yang dicita-citakan, mereka lupa bersyukur pada Kekuatan Tak Terlihat yang menuntun dan memudahkan jalan mereka dalam proses pencapaian tersebut. Sedangkan jika mereka gagal, orang-orang tersebut akan menggerutu pada Tuhan. Mereka mengalihkan kekecewaannya dan mencoba menutupi kegagalan yang sebenarnya bersumber dari diri mereka sendiri dengan menyalahkan Penciptanya.
Selanjutnya mengenai sikap gemar menolong yang rupanya saat ini ikut menghilang. Manusia yang menjadi komponen bangsa ini tampaknya lebih senang saling menuding atas kerusakan-kerusakan serta kesulitan di berbagai sektor yang dialami oleh negara. Jika sikap saling menolong ini saja sudah langka, apalagi pengorbanan yang dibutuhkan untuk menjadikan bangsa ini menjadi lebih baik hanya sebuah impian belaka.
Intisari dari upacara tersebut yaitu mengenai cengkir atau ceng-cenge pikir. Bangsa ini membutuhkan otak-otak yang siap diperas untuk memikirkan banyak hal demi mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Generasi muda yang menjadi fokus utama, harus giat menuntun ilmu pengetahuan, bukan hanya untuk formalitas, gelar, ataupun merencanakan masa depannya sebagai karyawan melainkan lebih dari itu, yaitu untuk mewujudkan lapangan-lapangan kerja, inovasi-inovasi, dan kreatifitas tingkat tinggi yang diperlukan untuk mengangkat kesejahteraan, harkat, serta maertabat bangsa.
Mengenai ingkung, kita diingatkan agar dalam usaha mencapai tujuan, tidak boleh saling sikut. Fenomena negatif ini telah mewarnai berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Secara utuh, upacara ini mengajak generasi penerus untuk menengok ke belakang, melihat dan meneladani apa yang dilakukan oleh para pendahulu kita dan menerapkannya dalam kehidupan masa kini. Dimulai dari perilaku pribadi hingga sikap berbangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
 

Upacara Adat Ceprotan

  
Dari penjelasan di atas, Upacara adat Ceprotan merupakan tradisi masyarakat Pacitan khususnya masyarakat Desa Sekar Kecamatan Donorojo yang dilaksanakan tiap tahun pada bulan Dzulqaidah (Longkang), hari Senin Kliwon. Acara ini dimaksudkan untuk mengenang pendahulu Desa Sekar yaitu Dewi Sekartaji dan Panji Asmorobangun melalui kegiatan bersih desa. Upacara ini diyakini dapat menjauhkan desa tersebut dari bala dan memperlancar kegiatan pertanian. Lokasi upacara Ceprotan yaitu di Desa Sekar, Kecamatan Donorojo, kota Pacitan yang jaraknya kurang lebih 40 km ke arah barat dari pusat kota. Upacara adat ceprotan ini juga menuntun kita untuk berusaha dalam mencapai tujuan hidup. Saling tolong menolong sangat diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Doa yang merupakan pengharapan pada Sang Pencipta sangat berberan penting dalam pencapaian apa yang dicita-citakan. Ingkung yang melambangkan hasil dari usaha yang dicapai mencontohkan pada kita bahwa setiap usaha pasti ada hasilnya. Jika usaha yang kita lakukan sudah maksimal, pasti hasilnya akan memuaskan pula.

READMORE - Upacara Adat CEPROTAN

LOGAM PACITAN DIUJUNG ABAD

Sucipta: inggih, sapisan kirang awas nalikanipun pijêr ing latu, kaping kalih anggènipun malu yèn kêsêron sok wajanipun kagèt, dados pêgat waos. Yèn kirang mulat pamèpèhipun wêwasuhan anglancangi waos, lajêng muntir mangandhap anutupi landhêping waos, mila yèn sampun tipis kalajêng dipun bucal têlas wangunipun, dipun lêstantunakên awon. Sidalaku: ya bênêr dhi, mara silakna. Sucipta: inggih, sanak Pawaka, pandhokan singat punika sampeyan bêkta mriki. Sampun tumandang lajêng kawarangan. (Serat Asmadaya, kaca 51, Sengkalan: aningali dêdalan unggyaning tunggal = Sênèn Lêgi, 24 Rêjêb 1752 A.J)

BAHAN LOGAM PIJER TOSAN AJI PACITAN
Oleh: Cak Nur Kompleh Pacitan

PASIR BESI
Secara umum pasir besi terdiri dari mineral opak yang bercampur dengan butiran-butiran dari mineral non logam seperti, kuarsa, kalsit, feldspar, ampibol, piroksen, biotit, dan tourmalin. Mineral tersebut terdiri dari magnetit, titaniferous magnetit, ilmenit, limonit, dan hematit. Titaniferous magnetit adalah bagian yang cukup penting merupakan ubahan dari magnetit dan ilmenit, merupakan logam terbaik yang ada.
Dalam tabel periodik, besi murni mempunyai simbol Fe dan nomor atom 26.
Titik lebur :    1811 K (1538 °C, 2800 °F)
Titik didih :    3134 K (2861 °C, 5182 °F)
Teknik peleburannya adalah dengan ditapih besi lunak dan, dengan mencampurkan batu bintang kuarsa untuk mempercepat pemurnian dan Pyrit (watu krepu)sebagai sumber karbon menghasilkan baja getas sebagai slorogan, tembaga untuk mengisi rongga dan menjaga kepadatan. Pemurnian dilakukan sistem tempa lipat (wasuh lempit= M. Nurichwan dalam teknik kuno)
Pasir Besi Ngiroboyo, Pringkuku Pacitan

TITANIUM

Titanium adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki simbol Ti dan nomor atom 22. Dia merupakan logam transisi yang ringan, kuat, berkilau, tahan korosi (termasuk tahan terhadap air laut dan klorin dengan warna putih-metalik-keperakan. Unsur ini terdapat di banyak mineral dengan sumber utama adalah rutile dan ilmenit, yang tersebar luas di seluruh Bumi. Beberapa diantaranya tersebar di pantai selatan pulau Jawa bercampur dengan bijih besi
Di Pantai Ngiroboyo Kecamatan Pringkuku Kab. Pacitan. Terdapat pasir besi dengan kandungan besi cukup tinggi, sekaligus Titanium mentah (titaniferous magnetit) yang dipercaya memiliki sifat kekerasan cukup tinggi. Dalam penempaan yang matang dan berkali kali  dipercaya menghasilkan logam baja yang mengandung  titanium.
Titik lebur :    1941 K (1668 °C, 3034 °F)
Titik didih :    3560 K (3287 °C, 5949 °F)
Titanium yang tersebar di pinggir pantai Pacitan

NIKEL
Nikel memiliki simbol Ni nomor atom 28 Nikel mempunyai sifat tahan karat. Dalam keadaan murni, nikel bersifat lembek, tetapi jika dipadukan dengan besi, krom, dan logam lainnya, dapat membentuk baja tahan karat yang keras.
Perpaduan nikel, krom dan besi menghasilkan baja tahan karat (stainless steel) dalam teknik lipat nikel adalah unsur penting untuk menjaga kelenturan baja slorogan, selain membentuk pamor yang indah.
Titik lebur logam:     1728 K (1455 °C, 2651 °F)
Titik didih logam:     3186 K (2913 °C, 5275 °F)
Nikel digunakan untuk pamor, dengan perbandingan 10-15% dari besi lipat.
Nikel

TEMBAGA
Tembaga adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Cu dan nomor atom 29.
TItik lebur :    1357.77 K, (1084.62 °C, 1984.32 °F)
Titik didih :    2835 K, (2562 °C, 4643 °F)
Tembaga merupakan konduktor panas yang baik. Selain itu unsur ini memiliki korosi yang cepat sekali sehingga mudah dilelehkan daripada baja. Tembaga murni sifatnya halus dan lunak, dengan permukaan berwarna jingga kemerahan. Tembaga dicampurkan dengan pasir besi dalam peleburan sebagai perekat dan pengisi kepadatan besi, sebelum pada akhirnya besi tersebut dimurnikan.

BATU YONI
Batuan Yoni adalah sebutan dari kristal (tumbuh dari chalcedony) maupun dari jenis agate jyang dilebur bersama bahan slorogan.  Menghasilkan debu yang kemungkinan bersifat sepeti kapur, secara teknis sebagian menyatu dengan besi sebagian lainnya mempercepat proses pemurnian pijeran. Menurut pitutur para ahli begenen di Pacitan batuan ini memiliki daya magis dan karakter , sehingga apabila dilebur dengan besi maka dipercaya keris tersebut memiliki tuah, sesuai dengan jenis dan karakter yang dimasukkan.
YONI, dalam pengertian umum semacam daya atau kekuatan gaib yang menurut ahli esoteri dianggap sebagaikekuatan yang ada pada tuah keris. Ini menunjukan ketinggian ilmu empu yang membuat. Dalam tradisi begenen Pacitan, selain laku tirakat pembuatanya, bahan baku dan ramuan yang terangkum dalam pijeran juga menentukan. Sebab kelak akan menjadi media yang akan menyimpan tayuh, hal ini bisa dianalogikan sebagai media rekam dan penyimpanan tayuh (memori penyimpanan) yang terkompres di dalamnya, yang sewaktu-waktu bisa di udal (di ekstrak) pada saat-saat dibutuhkan.
Beberapa hal  yang perlu dicatat soal keris dengan segala cerita legenda magisnya masih tetap eksis hingga kini. Meski demikian, keris dalam perkembangannya dikoleksi bukan lantaran kesaktian atau harapan dari kolektornya untuk mendapatkan “sesuatu”, tetapi keindahan dari fisik keris menjadi semakin dominan.
Sesungguhnya, dalam proses pembuatannya keris tidak beda dengan benda-benda seni kriya lain, seperti ukir (batu, kayu, tulang, besi). Yang sangat membedakan justru pada kisah-kisah magis yang dibangun bersama kehadiran keris atau tombak dan pedang.
Kisah-kisah magis itulah yang menjadikan keris sangat sulit untuk diproduksi massal. Tetapi dampak lain juga memunculkan sikap keengganan. Tidak semua orang mau mengoleksi keris sebagai benda seni, karena takut.
Namun dari kisah-kisah magis itu pulalah keris menjadi seni tingkat tinggi yang hanya dinikmati oleh mereka yang benar-benar mengerti, memahami dan menghargai serta mencintai benda yang dihasilkan oleh seni tempa itu.
Teknik pijeran Yoni yang dilakukan adalah pada saat membuat besi slorogan, yaitu dimasukkan bersamaan dengan menapih bijih besi, kuarsa, badar besi dan tembaga. Setelah dipijer (dilebur) campuran tersebut dilipat berulang ulang agar terjadi penyatuan. Selain itu ada beberapa jenis batu yang dilebur bersamaan selain kristal kuarsa, antara  lain adalah Badar Besi, Batu Krepu Hitam yang (mengandung Pyrit maupun Hematit),

 Watu Krepukristal karangDrusy Quartz white botryoidal chalcedony



KEMPIT ( TAPIH)

Inilah sebuah teknologi tempa tradisional, yang semenjak dulu juga dipakai oleh empu/pandai begenen. Supaya lempengan logam, pasir  besi batu yoni dan bahan pamor meteorit tidak hancur berantakan, ramuan tersebut harus ”ditapih yaitu dibungkus besi, baru kemudian dipijar di bara api arang kayu jati lalu ditempa.
“Kempit” adalah istilah penapihan yang dilakukan para ahli begenen yang ada di Pacitan, istilah umumnya adalah tapih. ”Tapih” adalah kain sarung, yang biasa dipakai untuk membungkus bagian bawah badan manusia tradisional Jawa, digunakan dalam begenen sebagai pembungkus ramuan logam.
BATU YONI DILETAKKAN DITENGAH TENGAH LOGAM mirip dengan memijar LONTONG BAJA (DITAPIH) (Gambar atas) Karakter logam inti yang bercampur dengan debu kristal batu mulia ini menghasilkan efek tajam dan bisa mencederai tulang secara permanen. Jadi maaf pemesan dilarang keras menggunakannya untuk kejahatan dan permainan. Sebab peleburan 4 anasir 1200 derajat celcius dari ragam jenis materi tersebut membuat karakter logam meteorit yang cukup berbahaya .. hanya untuk koleksi2 benda antik saja sebaiknya.. karena jenis ini adalah logam langka yang pernah digunakan sebagai senjata perang dimasa penjajahan (Prajurit Sultan Agung) yang sangat ditakuti Belanda masa itu... (Gambar Bawah) Besi Pengempit (tapih) berpamor memiliki sifat liat ulet dan menjaga kestabilan besi isi ... tanpa perlu diasah cukup direndam, perpaduan dua jenis logam lempitan ini cukup tajam dengan perendaman asam....

(kempitan bahan pamor disusun sebelum dilipat-lipat)

PIJERAN
Adalah peleburan beberapa unsur logam dengan cara ditapih/kempit, dibakar lalu di tempa supaya menyatu. Pijeran juga disebut sebagai proses pembuatan bakalan saton (tempaan lempeng besi berlapis yang sudah mengandung bahan pamor)

Pijeran (dengan kemampuan Begenen /tahan terhadap panasnya logam tanpa alat pelindung) 1200 derajat celcius baja pijar
BEGENEN
Adalah seorang pandai besi pada umumnya dengan kemampuan:
1.    menempa ragam jenis besi
2.    menyatukan leburan ragam unsur logam dan batuan pijeran
3.    tahan terhadap percikan api (menempa tanpa alat pelindung tubuh) pada tingkatan tertentu bagi yang sudah berumur mampu memegang bara api dan besi panas.

Berdasar dari petuah leluhur yang sempat tertulis dalam Gancaran Serat Asmadaya, kaca 48berbunyi:Sucipta: inggih kula amung mirit sangat Ibrahim, wilujêngipun ing latu, awit bêja cilakanipun tiyang saking latu.
Sidalaku: iya dhi bênêr mèlu aku, la mungguh sajèn kaya wong nikahan kuwi mungguh jumbuhing nalar.
Terdapat Wirid atau Do'a Nabi Ibrahim Alaihissalam sebagai wilujengan (doa keselamatan) terhadap panasnya api, agar senantiasa aman dan tidak celaka. Sebagaimana Adat Jawa sesajian atau sedekahan sebagaimana layaknya pernikahan, ini menyangkut pemaharan atas pusaka oleh pemesan kepada Empu.


(Salah satu warisan besi kempit /lipat/tapih yang masih lestari. Foto: Mbah Parnen seorang ahli begenen dari Desa Sanggrahan Kebonagung Pacitan)


titipan dari source
READMORE - LOGAM PACITAN DIUJUNG ABAD

PACITAN AJI BUDAYA


Kirap Pusaka
 
1.     AJINING DIRI GUMANTUNG ING LATHI
Penghargaan pada seseorang tergantung pada ucapan/ lisannya. Menjaga lisan, memengang ucapan, halus budi bahasa dalam rangka  “Amemangun karyenak tyasing sesama (membuat enaknya perasaan orang lain)” serta memanfaatkan kata-kata sebaik mungkin. Untuk itu sebagai orang Jawa tidak baik jika menghilangkan tata krama dalam berucap, asal bicara, omong kosong dan sebagainya, serta benar-benar dijaga dari hal-hal yang tidak baik/ merugikan.
Dalam perkembangannya seni kata sampai pada puncaknya yang dikenal dengan istilah sastra dan pelakunya disebut pujangga. Adapun kemampuan pujangga meliputi:
  1. paramasastra (ahli dalam sastra dan tata bahasa)
  2. parama kawi (mahir dalam menggunakan bahasa kawi)
  3. mardi basa (ahli memainkan kata-kata)
  4. mardawa lagu (mahir dalam seni suara dan tembang)
  5. awicara (pandai berbicara, bercerita, dan mengarang)
  6. mandraguna (memiliki pengetahuan mengenai hal yang 'kasar' dan 'halus')
  7. nawung kridha (memiliki pengetahuan lahir batin, arif bijaksana, dan waskitha)
  8. sambegana (memiliki daya ingatan yang kuat dan tajam).
Seperti halnya sastra, keris tidak hanya  merupakan puncak dari seni tempa logam, mengekspresikan sebuah ungkapan, syarat dengan filosofinya. Bahkan fungsi utama dari senjata tajam pusaka dulu adalah alat untuk membela diri dari serangan musuh, dan binatang atau untuk membunuh musuh. Namun kemudian fungsi dari senjata tajam seperti keris pusaka atau tombak pusaka itu berubah. Di masa damai, kadang orang menggunakan keris hanya sebagai kelengkapan busana upacara kebesaran saat temu pengantin. Maka keris pun dihias dengan intan atau berlian pada pangkal hulu keris. Bahkan sarungnya yang terbuat dari logam diukir sedemikian indah, berlapis emas berkilauan sebagai kebanggaan pemakainya. Lalu, tak urung keris itu menjadi komoditi bisnis yang tinggi nilainya.

2.     AJINING RAGA GUMANTUNG ING BUSANA
Ada pepatah yang menyatakan : "Penghargaan pada seseorang tergantung karena busananya." Mungkin pepatah itu lahir dari pandangan psikolog yang mendasarkan pada kerapian, kebersihan busana yang dipakai seseorang itu menunjukkan watak atau karakter yang ada dalam diri orang itu.

Keris sebagai accesoris pelengkap kaum pria yang mengenakan busana adat di berbagai daerah. Mengapa harus keris? Karena keris itu oleh kalangan masyarakat di Jawa, Melayu, Bugis, Bali dan daerah Nusantara lainnya dilambangkan sebagai simbol "kejantanan." Bahkan sampai-sampai ada adat terkadang apabila karena suatu sebab pengantin prianya berhalangan hadir dalam upacara temu pengantin, maka ia diwakili sebilah keris. Keris merupakan lambang pusaka.


3.     AJINING BANGSA GUMANTUNG ING BUDAYA
Tosan Aji atau senjata pusaka itu bukan hanya keris dan tombak khas Jawa saja, melainkan hampir seluruh daerah di Indonesia memiliki senjata tajam pusaka andalan, seperti rencong di Aceh, badik di Makasar, pedang, tombak berujung tig (trisula), keris bali, dan lain-lain.

Pandangan ini sebenarnya berawal dari kepercayaan masyarakat Nusantara dulu secara turun temurun, bahwa awal mula eksistensi mahkluk di bumi atau di dunia bersumber dari filsafat agraris, yaitu dari menyatunya unsur lelaki dengan unsur perempuan (kesuburan/Lingga Yoni). Di dunia ini Tuhan YME-Allah Swt, menciptakan makhluk dalam dua jenis yaitu lelaki dan perempuan, baik manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan dan unsur benda lainnya. Kepercayaan filsafat agraris di masyarakat Jawa terwujud dalam bentuk upacara kirab pusaka pada menjelang satu Sura dalam kalender Jawa dengan mengkirabkan pusaka unggulan Karaton yang terdiri dari senjata tajam: tombak pusaka, pisau besar (bendho). Arak-arakan pengirab senjata pusaka unggulan Karaton berjalan mengelilingi komplek Karaton sambil memusatkan pikiran, perasaan, memuji dan memohon kepada Sang Maha Pencipta alam semesta, untuk beroleh perlindungan, kebahagiaan, kesejahteraan lahir dan batin.

Kirab Pusaka Pacitan- Rangkaian puncak peringatan hari jadi Kabupaten Pacitan tiap tahun pada tanggal 16 Februari, pusaka kadipaten dikirab keluar pendopo kabupaten.Pelaksanaan kirab berlangsung meriah dengan balutan budaya khas Jawa,  senantiasa dilaksanakan secara kolosal oleh berbagai elemen dan disambut antusiasme masyarakat.
Pendopo kabupaten yang sehari-hari digunakan untuk acara resmi di ubah menjadi nuansa keraton dengan dekorasi ukir menakjubkan. Foto: Tumpengan

Sebelum kirab, prosesi hari jadi berlangsung di pendopo kabupaten. Diiringi lantunan gending-gending jawa, suasana pagi menjelang upacara kirab benar-benar seperti kembali ke masa lalu.Seluruh tamu undangan yang hadir dalam prosesi menggunakan busana beskap lengkap khas Jawa lengkap dengan senjata keris terselip di pinggang belakang.
Ing dhampar denta... paseban agung Patih Njero, Bekel Wiku ngadhep njeng Bupati, Busana Kejawen lengkap dengan Keris terselip di pinggang belakang saat Prosesi Hari Jadi Pacitan ke 267 (19 Februari 2012)
Usai rangkaian panjang prosesi pusaka selanjutnya dikirab keluar pendopo kabupaten. Rangkaian panjang kereta yang membawa pusaka dengan kawalan ratusan prajurit berjalan mengelilingi alon-alon Pacitan sebelum akhirnya kembali masuk kabupaten.Tampilan gagah para peserta kirab dalam balutan seni budaya kolosal membuat masyarakat dan pelajar yang menyaksikan kirab benar-benar terpesona.
 Pasukan Umbul2 Panji
Pasukan Tombak pedang
Pataka
pangiring bendhe ajurit
nirap tirta kadipaten
Wujud kemanunggalan Kawula kalawan Gusti
Diawali dengan pasukan berkuda berjejer berurutan kereta pusaka, kereta bupati dan wakil bupati, dokar para mantan bupati, Ketua DPRD, sekda dan muspida. selanjutnya mengikuti pasukan Pataka, pasukan umbul-umbul, pasukan tombak dan pedang serta panji-panji visualisasi keberhasilan Pacitan. Urutan belakang iring-iringan kirab pusaka ditutup dengan regu penabuh gamelan pengiring.

4.     AJINING JIWA GUMANTUNG ING RAHSA
Keris pusaka atau tombak pusaka yang merupakan pusaka unggulan itu keampuhannya bukan saja karena dibuat dari unsur besi baja, besi, nikel, bahkan dicampur dengan unsur batu lainnya ada juga materi meteorit yang jatuh dari angkasa sehingga kokoh kuat, tetapi cara pembuatannya disertai dengan iringan doa kepada Sang Maha Pencipta Alam (Allah SWT) dengan suatu upaya spiritual oleh Sang Empu. Sehingga kekuatan spiritual Sang Maha Pencipta Alam itu pun dipercayai orang sebagai kekuatan magis atau mengandung tuah sehingga dapat mempengaruhi pihak lawan menjadi ketakutan kepada pemakai senjata pusaka itu.

Tosan aji atau senjata pusaka seperti tombak, keris dan lain-lain itu bisa menimbulkan rasa keberanian yang kepada pemilik atau pembawanya. Orang menyebut itu sebagai piyandel, penambah kepercayaan diri, bahkan keris pusaka atau tombak pusaka yang diberikan oleh Sang Raja terhadap bangsawan Karaton itu mengandung kepercayaan Sang Raja terhadap bangsawan unggulan itu. Namun manakala kepercayaan sang raja itu dirusak oleh perilaku buruk sang adipati yang diberi keris tersebut, maka keris pusaka pemberian itu akan ditarik/diminta kembali oleh sang raja.

Hubungan keris dengan sarungnya secara khusus oleh masyarakat Jawa diartikan secara filosofi sebagai hubungan akrab, menyatu untuk mencapai keharmonisan hidup di dunia. Maka lahirlah filosofi "manunggaling kawula – Gusti",bersatunya abdi dengan rajanya, bersatunya insan kamil dengan Penciptanya, bersatunya rakyat dengan pemimpinnya, sehingga kehidupan selalu aman damai, tentram, bahagia, sehat sejahtera. Selain saling menghormati satu dengan yang lain masing-masing juga harus tahu diri untuk berkarya sesuai dengan porsi dan fungsinya masing-masing secara benar. Namun demikian, makna yang dalam dari tosan aji sebagai karya seni budaya nasional yang mengandung pelbagai aspek dalam kehidupan masyarakat  pada umumnya,  kini terancam perkembangannya karena aspek teknologi sebagai sahabat budayanya kurang diminati ketimbang aspek legenda dan magisnya.

5.     SISA-SISA PERADABAN DI TANAH PACITAN
Pacitan semenjak keruntuhan Majapahit atau sekitar tahun 1470-an dikenal sebagai daerah empu, daerah pembuat keris yang terkenal selain wilayah Bagelen Banyumas dan wilayah Madiun. Keris Pacitan terkenal kuat dan tahan lama, pamornya dari besi sejati.

Sultan Agung Hanyokrokusumo (memerintah 1613-1646), raja terbesar dari Mataram, menggantikan ayahandanya, Panembahan Seda (ing) Krapyak, setelah ayahandanya ini wafat pada tahun 1613. Dalam kenyataannya dia tidak memakai gelar sultan sampai tahun 1641; mula-mula dia bergelar pangeran atau panembahan dan sesudah tahun 1624 dia bergelar susuhunan (yang sering disingkat sunan, gelar yang juga diberikan kepada kesembilan wali). Namun demikian, disebut Sultan Agung sepanjang masa pemerintahannya dalam kronik-kronik Jawa, dan gelar ini biasanya dapat diterima oleh para sejarawan.

Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Pacitan dikenal sebagai wilayah pandean, disinilah pasokan senjata borongan prajurit seperti tumbak, keris, pedang, perisai baja diproduksi. Saat penyerangan Batavia, Tuban, Surabaya, Madura, Wirasaba, Malang  sampai Banyuwangi, Begenen Pacitan memproduksi lebih dari 500 juta suku cadang senjata.
Peran Tosan Aji dan Begenen Pacitan sangat vital di masa lampau, mengiringi kejayaan Sultan Agung di medan tempur dalam usaha mempersatukan Jawa dibawah Panji Mataram.

Beberapa gelar perang beliau yang terkenal antara lain Garudha Nglayang, Supit Urang, Wukir Jaladri, atau gelar Dirada Meta, prajurit yang mendampingi menggunakan senjata tombak yang wajahnya diukir gambar kalacakra dan tak lepas dengan beberapa keris yang terselip di kanan kiri dan bagian belakang pinggangnya. (Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto, Februari 2012)

Pada masa perang Diponegoro,  Pacitan adalah tempat utama pemasok senjata pasukan laskar Pangeran Diponegoro. Kebetulan ibunda Pangeran Diponegoro adalah anak kyai dari Pacitan. Pasokan senjata dari Pacitan ini kemudian dihancurkan oleh pasukan Belanda pada tahun 1828, pada peristiwa serbuan November di musim penghujan. Gudang-gudang senjata dihancurkan, rumah bupati Pacitan dibakar, keluarga bupati Pacitan ditangkap dan dibunuh, yang selamat dibawa ke Semarang untuk dibuang ke Ambon.
Pacitan menyimpan tragedi amat kelam atas sejarah tanah Jawa. Di tanah Pacitan ini masih tersimpan sisa-sisa peradaban masa lalu, peradaban para empu, yang menciptakan besi dari meteor, menciptakan batang keris dari remah-remah abu luar angkasa, hamparan  serbuk pasir besi pantai,  bongkahan badar besi dan kristal yang terjepit disela-sela bebatuan cadas...

Kini pandean Pacitan hanya menciptakan sedikit kenangan masa lalu, seorang pande besi dengan serbuan api 1.200 derajat celcius menahan percikan baja. Mereka adalah orang-orang kuat yang mampu menembus daya tahan sebagai manusia biasa.

Di Pacitan, kita bisa melihat sejenak masa lalu.........


MPU GUNUNG LIMO
Gunung Limo adalah gunung yang berjajar lima, antara lain Gunung Gembuk, Gunung Pakis Cakar, Gunung Lanang, Gunung Kukusan, dan Gunung Lima Mantren. Disanalah terkisah seorang Empu bernama Wonogati yang tinggal di lereng Gunung Lima.

Empu Wonogati berasal dari jaman Pajang, setelah kerajaan mengalami banyak huru hara. Beliau datang bersama panjaknya dan beberapa Pajurit SORENG menginjakkan kaki di Pacitan. Inilah cikal bakal Empu pra Mataram yang meracik senjata berpamor Pandean Pacitan yang kemudian dikenal sebagai  pijeran “Besi Sejati”.
Secara umum sebelumnya keris tangguh Pajang memiliki besi mentah, terkesan kurang tempaan Pamornya mubyar (menyala) putih seperti perak. Baja sedang jika berluk, kelokannya terlihat rapat (kekar). Ganja umumnya besar. Sirah cecak juga besar. Tantingannya agak berat, lebih berat dari keris-keris Mataram sesudahnya.

Selain Empu Wonogati, Pajang juga dikenal Empu Umyang (putra Empu Supo Sepuh, Majapahit), Empu Cublak, Empu Surawangan, Empu Joko Puthut dan Empu Pengasih. Pembuat keris yang disebut terakhir ini ditandai dengan karyanya yang tidak berpamor. Setelah melihat hamparan Pasir Besi yang melimpah di tepian pantai Empu Wonogati memiliki keleluasaan untuk memperbaiki kualitas karyanya. Menurut pendapat Mbah Mangil (sesepuh Gunung Limo) Empu Wonogati memilih gunung ini sebagai tempat yang ideal untuk menunggal karsa manungal karya. Meyakini bahwa ketenangan alam pegunungan mampu memfokuskan  batin (manekung/khusyuk) dalam ritual pembuatan Pusaka.

Petilasan Kyai Wonogati ada di Desa Mantren Kecamatan Kebonagung Pacitan. Sedangkan Pimpinan Soreng Pati (Suro Ing Pati/Kopasus) Pajang ada di Desa Gayam Kecamatan Kebonagung. Dikabarkan menjadi cikal bakal Desa Wonogondo yang berjasa membabat hutan. Wonogondo adalah desa di Kecamatan Kebonagung, dari asal kata Wono (hutan) dan Gondo (harum). Konon dalam sebuah tutur dikabarkan hutan tersebut awalnya beraroma wangi, karena dipenuhi tumbuhan Pudhak (Pandan).

Pada saat Adheging Bhumi Mataram sebagaimana tertulis dalam Babad Momana, Pacitan sudah dikenal semenjak Mataram dipimpin Sultan Agung. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Pacitan dikenal sebagai wilayah pandean, disinilah pasokan senjata borongan prajurit seperti tumbak, keris, pedang, perisai baja diproduksi. Dengan adanya “Besi Sejati” dari masa ke masa telah sesuai dengan perannya mengiring para ksatria dalam menjalankan tugas sura ing pati.

~Diulas oleh: Slamet Margiyono, Nur Kompleh & Johan Perwiranto~

(Salah satu warisan besi kempit /lipat/tapih yang masih lestari. Foto: Mbah Parnen seorang ahli begenen dari Desa Sanggrahan Kebonagung Pacitan)



source
READMORE - PACITAN AJI BUDAYA

AGENDA KEGIATAN HARI JADI KE-267 KABUPATEN PACITAN TAHUN 2012

Kamis, 9 Pebruari 2012
05.00 – selesai Khataman Al Qur’an di Masjid Agung Pacitan
19.00 - selesai Dzikir Akbar di Pendopo Kab. Pacitan

Jum’at - Sabtu, 10 – 19 Pebruari 2012
09.00 - selesai Pameran Buku di Gedung Gasibu

Minggu,12 Pebruari 2012
06.00 - selesai Sepeda kuno Start-finish Alon-alon Pacitan

Selasa,14 Pebruari 2012
09.00 - selesai Seminar reformasi birokrasi Narasumber : Moh. Sobary & Men PAN di Pendopo Kab. Pacitan

Rabu, 15 Pebruari 2012
08.00 – selesai Lomba/Pertandingan Olahraga (Lomba Volly antar Kepala Desa se Kab. Pacitan, Tim SKPD dan, DPRD di Alon-alon Pacitan

Kamis, 16 Pebruari 2012
09.00 - selesai Seminar Kesehatan keluarga harmonis
Narasumber : dr. Taufik Hidayat di Ruang Peta

Kamis – Jum’at, 16-17 Pebruari 2012
08.00 - selesai Donor Darah di UTDC PMI Pacitan

Kamis, 16 Pebruari 2012
20.00 - selesai Pagelaran Wayang Beber di Halking

Sabtu, 18 Pebruari 2012
19.00 - selesai Sholat hajad dan sujud syukur di Masjid Agung Pacitan

Minggu, 19 Pebruari 2012
09.00 - selesai Prosesi hari jadi di Pendopo Kab. Pacitan

Minggu,19 Pebruari 2012
19.00 - selesai Penampilan Shalawatan Desa Sukoharjo dan Desa Banjarsari di Alon-alon Kab. Pacitan

Senin, 20 Pebruari 2012
20.00 - selesai Ketoprak anak-anak di Alon-alon Pacitan

Selasa, 21 Pebruari 2012
21.00 - selesai pagelaran wayang kulit dengan dalang anak-anak di Alon-alon Pacitan

Selasa – Sabtu, 21 – 25 Pebruari 2012
19.30 - selesai Bola Volly Liga Osis SMA N 1 Pacitan di Gasibu

Jum’at, 24 Pebruari 2012
06.00 - selesai Jalan sehat Start - finish alon-alon Pacitan
21.00 - selesai Pesta kembang Api dan dangdut SERA dari Telkomsel di Alon-alon pacitan

Minggu, 26 Pebruari 2012
06.00 - selesai Sepeda Sehat Start - finish alon-alon Pacitan

Rabu,29 Pebruari 2012
21.00 - selesai Pengajian Akbar
Mubaligh : KI JOKO GORO-GORO di Alon-alon Pacitan





Source : Dochumas Pacitan
READMORE - AGENDA KEGIATAN HARI JADI KE-267 KABUPATEN PACITAN TAHUN 2012

Pesona Pantai Pancer Door

Kali ini kami berniat ingin menyuci kekaburan mata dan fikiran. Salah satu tempat yang tepat menurut kami adalah Pantai sebelah timur Teluk Pacitan, yakni Pancer Door
Pantai Pancer Door kurang-lebih 3Km dari pusat Kota Pacitan. Pantai ini terletak di desa Sidoharjo, Kecamatan Pacitan. Selain memiliki fungsi sebagai pesona pantai, namun disini tak kalah dengan adanya lokasi Olahraga, perkemahan, dll.
Untuk Lokasi perkemahan, di pancer door pernah digunakan untuk kemah Nasional (Jambore Nasional), seluruh Praja Muda Karana se-Indonesia bergabung jadi satu di Pancer Door. Selain Pramuka, yang menggunakan pun banyak, misalnya PMR, Saka, Camp Pribadi, dll. Sebagai tempat olahraga, sekitar daratan  pantai pancer setiap sore didominasi oleh anak-anak muda Pacitan guna melemaskan otot-otot dengan jogging, naik sepeda pancal, sepak bola, dsb. pesona ombak Panai nan indah, didominasi ombak yang layak untuk berselancar mengundang simpati para peselancar dalam negeri maupun mancanegara. woww... [riza/cyp]
READMORE - Pesona Pantai Pancer Door